Langsung ke konten utama

Subjektif Itu Bikin Dzalim

SUBJEKTIF, sifat yang jelek banget menurutku. Kenapa? Ya karena udah ngerugiin banyak orang. Coba aja ya, misalnya kita milih partner kerja cuma karena mereka kenal baik dan kerabat terdekat. Gimana tuh perasaan yang ngga kepilih?. Pasti suudzon duluan kan?. Ntar mereka ngomelnya malah dibelakang. Apalagi kalau ternyata orang yang kita pilih itu sama sekali tidak berbakat atau bahasa kasarnya, maaf "ngga becus".


Sebenernya sih bukan hanya dalam hal pilih memilih partner. Tapi subjektif dalam segala hal pun merugikan banyak orang. Apalagi seandainya kita yang menjadi korban ke-subjektif-an tersebut. Pasti ugh! Kesel banget. Bukannya menyombongkan diri bahwa diri kita lebih bisa, tapi lihatlah dari sisi objektif. Karena menurutku akan jauh lebih aman. Ada baiknya, kalau memang yang terpilih itu kerabat kita setidaknya dijelaskan kenapa kita memilih orang tersebut. Supaya tidak menimbulkan suudzon atau pikiran buruk terhadap kita.

Apalagi kalau kita dapet kesempatan untuk menilai sesuatu, atau istilahnya jadi juri gitu dalam sebuah perlombaan. Nah kita harus bener-bener adil dan sama sekali ngga boleh ada unsue subjektif. Karena ya, seperti yang aku bilang tadi. Merugikan banyak orang. Kalau ternyata kita menilai secara subjektif, dan orang yang seharusnya mendapatkan juara dalam lomba tersebut tidak terima karena penilaian yang tidak adil tersebut, kemudian mendo'akan kita yang ngga-ngga, Nah! rugi juga dikita kan?. Apalagi kalau orang itu sampai merasa terdzalimi, uh bahaya banget tuh kita. Kan do'a orang-orang yang terdzalimi itu insyaAllah dikabulkan oleh Sang Maha Adil.

Oke sobat, jadi hati-hati aja deh. Jangan sampai kita bikin rugi orang lain hanya karena kita telah melakukan ke-subjektif-an. Ini sih, cuma bagi-bagi pengalaman. Soalnya ngga enak banget jadi korban ke-subjektif-an seorang juri.

Salam, Hayfa ^^ 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cara Buat Daftar Gambar/Tabel/Bagan Otomatis

Sebenernya memang sudah banyak yang tahu soal bagaimana buat daftar isi, daftar tabel, daftar gambar secara otomatis di file Microsoft Word. Tapi, gue ingin sharing saja dan siapa tahu bermnafaat. Biasanya per-daftar isi-an secara otomatis ini dipake buat di penulisan ilmiah seperti makalah, karya tulis, maupun skripsi. Karena biasanya tugas-tugas ngetik itulah yang banyak gambarnya, tabel, dan bagan. Tapi tidak menutup kemungkinan, daftar isi otomatis ini dipake dalam proses ketik file apapun. Jadi kita langsung ke step by step nya ya.

14 Tahun Medali Perak di Tangan (Alifa Rahmania Amanuloh)

Aku pernah punya cita-cita untuk jadi reporter. Maka aku pun sengaja join ekskul jurnalistik di sekolah. Seneng banget waktu ketua ngasih tugas buat wawancara pemenang medali perak bidang ekonomi di Olimpiade Sains Nasional 2013. Jadilah aku buat janji sama Alifa Rahmania Amanuloh sang peraih medali perak tersebut untuk wawancara atas nama Ath-Thullab (nama klub jurnalistik sekolah). Walaupun bisa dibilang umurnya masih cukup muda, yaitu 14 tahun tapi gadis berasal Manado ini memiliki otak yang kinclong untuk soal tentang perekonomian. Keren kan?!!. Dan kebetulan Alifa adalah teman sekelasku dan saudara asuhku. Jadi gampang deh buat bikin jadwal wawancara sama dia. Kira-kira beginilah hasil wawancaranya. Alifa waktu baru turun dari pesawat di bandara Jalaludin, Gorontalo

Pustakawan yang Tak Paham Konsep Perpustakaan

Anton Sholihin Pustakawan yang Tak Paham Konsep Perpustakaan Lahir : Bandung, 18 September 1968 Istri : Arumtyas Santoso Riwayat Pendidikan : Universitas Padjadjaran Program Studi Ilmu Sejarah lulus tahun 1994 Anton Sholihin (47) mendirikan perpustakaan kecil di halaman rumahnya sejak 1 April 1999. Perpustakaan yang yang terletak di Jalan Raya Jatinangor, Kabupaten Sumedang ini dinamakan Perpustakaan Batu Api. Padahal sebenarnya Anton mengaku tidak paham sama sekali teknis tentang perpustakaan. Ia hanya fokus mendokumentasikan budaya popular melalui tiga hal, yaitu buku, musik, dan film. “ Saya sebenarnya tidak mengerti teknis perpustakaan sampai saat ini. Tapi saya sering bilang ke orang bahwa kegiatan ini adalah mendokumentasikan budaya populer lewat buku, musik dan film. Kalau orang lain menganggap ini sebagai perpustakaan, yah itu berarti perkembangannya“ ujarnya dengan suara yang lembut.